Ayu Rekonsiliasi tragedi 1965

Konsennya pada isu rekonsiliasi, demokrasi, gerakan sosial, genesida, dan kritikal teori hubungan internasional. Konsen terakhir tak lepas dari profesinya sebagai dosen. Di Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL), Universitas Gadjah Mada (UGM). Minat tersebut ia turunkan pada beragam gagasan. Di antaranya riset berjudul, “Non Violence As Key to Democratic Consolidationin Indonesia” pada 2018.

Tahun 2017, ia meneliti tentang hak adat Suku Dayak di Kalimantan Barat dan Sedulur Sikep di Jawa Tengah. Topiknya, “Plural Citizenships and the Politics of Indigenous Rights in Indonesia, Case Study: the Dayak in West Kalimantan and Sedulur Sikep in Central Java”. Selain itu, ia juga menulis tentang politik warga pasca fundalisme Islam. Dalam sebuah bab berjudul “Post-Fundamentalist Islamism and The Politics of Citizenship in Indonesia”

Dan di tahun yang sama. Ia juga meriset tentang “Spaces and Memories: Higher Education Institutions and the Act of Remembering and Forgetting in Post-1965 Indonesia”. Berbasis minat kajiannya tersebut, Ayu Diasti Rahmawati menyorot dampak kekerasan yang mengiringi tragedi politik 1965. Berkaitan dengan tragedi tersebut, menurutnya rekonsiliasi tidak bisa hanya sebatas pada generasi pertama.

Pencarian kebenaran atau keadilan, juga butuh melibatkan generasi setelahnya, sebab mereka juga menjadi korban stereotipe. Karena itu, generasi kedua dan ketiga, harus punya bekal pemahaman yang cukup. Terutama, tentang pentingnya hak asasi manusia, perdamaian, dan konsep nirkekerasan.

Pada Kongres Kebudayaan Desa ini, Ayu Diasti Rahmawati akan menjadi narasumber. Webinar Seri Khusus di hari kelima, 5 Juli 2020 dengan topik Inklusi Sosial: Mewujudkan Masyarakat Inklusif dalam Tatanan Indonesia Baru.

(Sumber foto: Indoprogress.com)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *