Sanggar Budaya tari anak saraswati sewon

Kebudayaan memiliki lingkup yang amat luas. Buku Seri 10 Kongres Kebudayaan Desa menampilkan keberagaman dan perbedaan dalam praktik kebudayaan tersebut. Hal tersebut dituturkan oleh Alia Swastika saat membahas buku KEBUDAYAAN: Mengkonstruksi Ulang Alam Pikiran Nusantara Sebagai Basis Peradaban.

Ia menyebut jika pelaku-pelaku budaya yang menyusun buku tersebut menulis berdasar pengalaman personalnya. Seperti penari yang membuat rumah budaya di Sewon untuk memperkenalkan tarian kepada masyarakat dan Nirwan Arsuka yang memulai kegiatan kebudayaannya dari literasi dengan Pustaka Bergerak. Diberbagai Nusantara muncul komunitas mengajak kita untuk melihat nilai-nilai, kepercayaan, dan pengetahuan dalam praktik budaya lokal.

Namun, Alia masih memberi catatan mengenai perlunya kajian dan proses lebih lanjut terkait poin-poin yang tercantum dalam buku tersebut. Terutama apabila akan direkomendasikan menjadi strategi kebudayaan. Para penulis dalam buku tersebut melihat  kebudayaan bukan sekadar perayaan kesenian. Mereka melakukan kegiatan membangun kebudayaan berdasar dari praktik hidup sehari-hari. Kebudayaan tidak dilihat sekadar ritus atau perayaan besar saja.

Buku ini disusun dari gerakan-gerakan dari bawah atau di tingkat komunitas-komunitas. Perlu adanya kebijakan kebudayaan untuk membangun relasi antar komunitas agar menjadi pengetahuan bersama. Menurut Alia, masa pandemi mau tidak mau membuat komunitas bergerak dari lingkungan sekitarnya. Karena kesulitan mendapat bantuan dari pemerintah, satu per satu saling menjaga yang ada disekelilingnya.

Dalam salah satu tulisan, Diah Larasati memaparkan perlunya kemampuan untuk membaca potensi agar desa tidak memandang sebagai hal yang eksotis. Kita bisa melihat jika desa punya peluang. Saat ini, terlihat dari berpindahnya praktik kesenian, seperti sanggar budaya dan ruang kolektif dari seniman muda dari kota ke desa. Dahulu, pusat-pusat kebudayaan di Yogyakarta selalu ada di kota. Lama kelamaan, karena harga tanah makin mahal, pusat ini bergeser ke Nitiprayan.

Kini, ruang-ruang ini mulai banyak tumbuh di Sewon dan kawasan pedesaan lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa desa punya peranan penting dalam berkesenian. Pelaku seni menjadi bagian dari desa dan mengambil pengetahuan darinya. Muncul juga megenai isu keberlanjutan ekosistem lingkungan. Anak-anak muda saat ini mulai mengalami ruralisasi. Muncul festival-festival berbasis desa di Harau, Flores, dan Anambas yang diinisiasi masyarakat yang menjalin pertemanan dengan praktisi seni di luar daerah.

(Sumber foto: website Sanggar Anak Saraswati)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *