Pengalamannya dalam misi kemanusiaan telah berjalan lebih dari 20 tahun. Ia sangat konsen dengan isu pemberdayaan anak dan perempuan. Pendampingan perempuan dan anak desa, serta buruh migran dan keluarga yang menjadi fokusnya selama ini, bertujuan untuk membangun kesejahteraan dari bawah.

Motivasi itulah yang memantiknya untuk menginisiasi beragam gagasan pemberdayaan.Terutama pada TKI dan keluarga yang ditinggalkan di desanya. Karena menurutnya, selama ini kita lebih sering memikirkan TKI-nya, tapi lupa memikirkan keluarga yang ditinggalkan.

Kepedulian pada anak-anak yang ditinggalkan para TKI tersebut, mendorong Farha Ciciek bersama suami mendirikan Komunitas Tanoker di Jember, Jawa Timur. Tanoker, dalam bahasa Madura berarti kepompong.

Nama yang dipilih untuk menggambarkan harapan dari proses yang sederhana, akan tumbuh generasi baru dengan masa depan cerah. Untuk itu, ia lebih konsen pada anak-anak tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Intensinya, pada pendidikan berbasis pendekatan budaya. Karena baginya, kesenian dan budaya merupakan alat persuasif yang membahagiakan.

Pada Kongres Kebudayaan Desa ini, Farha Ciciek menjadi moderator di hari kesepuluh, 10 Juli 2020 dengan topik Keluarga: Reformulasi Peran Strategis Keluarga dalam Pemuliaan Martabat Manusia untuk Tatanan Indonesia Baru.

(Sumber foto: bbc.com )

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *