Ajaran Islam harusnya disampaikan dengan gembira, melalui beragam pagelaran seni. Mulai dari sastra, seni rupa, tarian tradisional maupun modern. Begitulah gambaran pemikiran Kyai Jadul Maula, pengasuh Pesantren Kaliopak, Bantul. Karena itu, ia mendefinisikan pesantrennya sebagai pesantren kebudayaan. 

Menurutnya, pesantren tak bisa lepas dari kesenian. Karena kesenian memberi kebahagiaan, sekaligus menjadi sarana memperdalam makna kehidupan. Untuk menegaskan komitmen tersebut, ia juga berusaha melawan stigma bahwa seni bertolak belakang dengan Islam. Kalau pandangan tersebut kemudian disebut nyentrik, itu lebih karena masyarakat belum terbiasa memahami konsepnya.

Konsep tersebut kemudian ia bukukan dalam “Islam Berkebudayaan”, terbitan Pustaka Kaliopak tahun 2019. Buku tersebut mengulas pergulatan nilai-nilai universal Islam dengan nilai-nilai lokal. Sejak Islam masih di wilayah asalnya, Arab, hingga meluas ke Indonesia. Tahun 1992, Kyai Jadul merupakan salah satu pendiri Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS). Organisasi independen yang ingin mewujudkan Islam transformatif berbasis ke-Indonesiaan.

Pada Kongres Kebudayaan Desa ini, Kyai Jadul Maula akan menjadi pembicara di hari kelima, 6 Juli 2020 dengan topik Agama: Dari Ritus ke Substansi (Transformasi Peran Agama dalam Mengawal Tatanan Nilai Indonesia Baru).

(Sumber foto: Facebook)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *