ilustrasi-festival-budaya

“Segerakan pengakuan hak masyarakat adat atas ruang hidupnya!” kata Yando Zakaria, pengamat dan pemerhati masyarakat adat.

Pada satu kesempatan dalam talkshow Kongres Kebudayaan Desa bertema Menjaring Gagasan dan Imajinasi tentang Indonesia Baru, Rabu (5/7/20), Yando dengan tegas mengatakan, “Pasal 67 UU Nomor 41 tentang Kehutanan adalah ‘perampok tanah adat’.”

Jauh sebelum itu, Yando telah mempertanyakan UU Kehutanan dalam tulisannya berjudul “20 Tahun UU Kehutanan, Bagaimana Kehidupan Masyarakat Adat?” yang terbit di situs berita lingkungan Mongabay. Pasal 67 ayat (2) menyebut pengukuhan keberadaan dan hapusnya masyarakat hukum adat ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

Menurutnya, UU Kehutanan menambah persyaratan keberadan masyarakat adat. Yaitu dengan harus tertuang dalam suatu penetapan melalui Perda. Bagi Yando, UU Kehutanan tahun 1999, alih-alih mempercepat proses pengakuan hak masyarakat adat, malah makin menghambat.

Dalam talkshow itu tak hanya Yando yang prihatin dengan nasib masyarakat adat. Dua pembicara yang lain, yaitu Arfiansyah dari masyarakat adat Aceh dan Basrizal DT Panghulu Basa dari masyarakat adat Minang pun tak jauh beda. Mereka mengutarakan keresahan yang dirasakan masyarakat adat.

Arfiansyah menginginkan agar masyarakat adat diberi kewenangan mengelola sumber daya alam. Sebab, sampai saat ini, menurutnya, “Masyarakat adat masih terbentur kebijakan negara bila berkaitan soal Sumber Daya Alam.”

Sejalan dengan itu, Basrizal DT Panghulu Basa mengatakan bahwa nagari telah luluh lantak akibat kebijakan politik. Bagaimanapun, masyarakat adat telah ada jauh sebelum Republik Indonesia lahir. Seperti kata Basrizal, “masyarakat hukum adat adalah kekuatan masa lalu yang berkontribusi mendirikan negara kesatuan republik ini.”

Karenanya, ia tak ingin pemerintah abai dengan masyarakat hukum adat. “Kami tidak berharap pemerintah ibarat ‘rumah sudah, tukang dibunuh’, artinya, negara makin kuat, tapi nagari justru mengalami kelumpuhan.,” pungkasnya.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *