Indonesia pernah berkali-kali mengalami hantaman krisis. Bedanya tahun 1998 dan 2008 lalu hanya sebagian Negara terdampak sehingga kita masih dapat meminta pertolongan Negara lain. Pandemi kali ini menyebabkan seluruh dunia mengalami krisis. Jika ingin bangkit kembali, Indonesia perlu berdikari. Desa memiliki potensi untuk menjadi tulang punggung utama kebangkitan negeri. Pemerintah melalui Kementrian Desa, PDT, dan Transmigrasi melakukan upaya melawan Covid 19 lewat menyalurkan dana desa.

Karena pandemi ini mengubah dunia, manusia perlu mengubah cara berpikir dan bertindaknya. Hal-hal yang dahulu umum terjadi, seperti intensitas komunikasi lewat tatap muka perlu diganti. Dalam paparannya di Seri 1 Webinar Kongres Kebudayaan Desa, Wakil Menteri Desa, PDT, dan Transmigrasi Budi Arie Setiadi bertutur mengenai potensi yang dimiliki desa. “Selama ini desa hanya menjadi pasar e-commerce barang-barang impor. Kita perlu mengurangi hal tersebut supaya tidak mengganggu dan merusak pondasi perekonomian karena menguras devisa. Kita perlu menggerakkan arus barang dari desa ke kota.”

Ia juga menambahkan, perlunya penetapan peraturan desa untuk membuat kenormalan baru di desa. Desa memiliki kondisi kultural yang bertumpu pada kearifan lokal. Penyebaran Covid dapat diatasi jika warga menjaga mulai dari lingkungan terkecil mulai RT dan RW. Prof. Dr. Melani Budianta menyebut jika pandemi muncul akibat eksploitasi manusia terhadap alam. Kita tidak mungkin kembali lagi melakukan hal tersebut jika ingin memperbaiki alam.

Selama ini, ada ketimpangan antara desa dan kota. Tenaga-tenaga produktif pergi meninggalkan desa termasuk diantaranya menjadi penghasil devisa dari TKI. Di sisi lain, lahan hijau dan produktif di desa berkurang. Ladang dan pertanian yang awalnya dipakai untuk tanaman pangan berubah ditanami komoditas ekspor. Akibatnya, keragaman hayati berkurang. Berbagai potensi yang ada perlu ditingkatkan agar tenaga produktif yang kembali ke desa mendapat pekerjaan. Desa perlu memiliki anak-anak muda yang berwawasan global dan inovatif.  Termasuk didalamnya memunculkan lurah dan kepala desa muda dengan cara pandang baru.

Peradaban di masa depan akan bertumpu pada desa yang mempunyai ketahanan pangan. Perlu ada penguatan sistem sosial paska pandemi termasuk didalamnya penguatan sistem nilai dan tradisi termasuk budaya gotong-royong. Desa memiliki potensi tanaman obat dan memori kolektif tentang pagebluk yang perlu digali kembali.

Share
One thought on “Membangun Desa Paska Pandemi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *