Aplikasi Pasar Desa sebagai Penyangga Ekonomi Bangsa

“Penting menghadirkan desa sebagai subjek politik dalam demokrasi,” ujar sosiolog sekaligus peneliti Arie Sujito dalam Kongres Kebudayaan Desa, Seri 13, Rabu (8/7/20).

Pada Webinar tersebut, Sujito berpendapat bahwa selama ini desa belum mendapat ruang luas sebagai subjek politik. Desa seringkali masih terkurung oleh rezim administrasi yang sifatnya formalisitik. Teknokrasi berlebihan yang dibalut dalam regulasi, membuat posisi desa makin sulit dan jauh dari penempatannya sebagai subjek.

Dengan menjadi subjek politik dalam demokrasi, menurut Sujito, desa dapat mulai mengakhiri sejarah eksploitasi. Desa punya potensi untuk bergerak lebih cepat. Pada kesempatan itu, ia pun mengingatkan agar “Jangan sampai hukum hanya menjadi instrumentalisasi bagi kepentingan administratif. Sebab, hal itu hanya akan menjadi alat penjinakan desa.”

Kini, dengan disahkannya Undang-Undang Desa, kewenangan serta keleluasaan desa dalam menjalankan pembangunan harusnya makin luas. Ada empat pokok pembangunan desa yang disebut Dirjen PPMD Kemendes Taufik Madjid. Yaitu, memberdayakan dan menyejahterakan masyarakat desa; meningkatkan pelayanan publik di desa; menanggulangi kemiskinan di desa; dan menjadikan masyarakat desa sebagai subjek dari pembangunan.

Ada spirit otonomi dalam UU Desa. Diungkapkan oleh Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Rukka Sombolinggi, “Semangat UU Desa itu self governing, memberikan otonomi pada desa untuk mengatur dirinya sendiri.”

Kampung atau desa merupakan penyangga bangsa, imbuh Rukka. Di tengah ancaman krisis pangan karena pandemi, kampung punya ketahanan pangan yang bagus. Berbeda dengan kota yang rentan, kampung adalah tempat yang aman. Kalau pun terdapat ancaman krisis pangan di komunitas. Menurutnya, itu terjadi di komunitas atau kampung yang wilayahnya telah direbut korporasi, sehingga tak punya lagi tanah untuk bertani.

Padahal, bagi Rukka, potensi desa melebihi pertumbuhan ekonomi hitungan pemerintah. Pada Webinar Bertema Hukum dan Politik Desa: Membangun Habitus Politik dan Regulasi yang Memuliakan Martabat Manusia dalam Tatanan Indonesia Baru, ia mengungkapkan ada masalah besar yang menimpa masyarakat desa. Ia berkata, “Negara yang kita anggap sebagai pelindung dari kapitalisme global, justru menjadi bagian dari mereka yang menusuk jantung kampung!” Oleh karenanya, ia pun menyarankan agar negara mendekonstruksi ekonomi yang awalnya mengacu pada kapitalisme untuk beralih kepada desa sebagai penyangga ekonomi bangsa.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *