Suara.com_Fakhri Hermansyah_Pendidikan Anak

“Dulu sekolah itu nggak ada. Jadi, anak-anak diasuh penuh oleh keluarga. Lalu, sekolah hadir dan para orangtua mendadak merasa nggak bisa apa-apa tanpa sekolah,”

Ken Terate

Penggalan kalimat tadi merupakan postingan facebook Ken Terate, seorang penulis yang mendidik kedua putranya dengan metode homescooling. Ia merespons komentar para orang tua yang kerepotan hingga bosan mengasuh anaknya pada masa pandemi. Biasanya, anak-anak bersekolah dari pagi hingga siang atau sore hari.

Tak jarang, orangtua lepas tangan terhadap pendidikan anaknya karena merasa hal tersebut tugas sekolah. Saat tatap muka di sekolah ditiadakan akibat pandemi, orangtua kerepotan mengatur menemani belajar anaknya. Di tulisannya, Ken juga menambahkan, jika sekolah, datang jauh setelah ada keluarga. Fungsinya, untuk membantu orangtua, bukan untuk mengasuh anak. Karena, mendidik anak merupakan tanggung jawab orangtuanya.

Saya jadi teringat cerita-cerita yang muncul selepas kelulusan sekolah. Orangtua berlomba-lomba mencarikan sekolah yang terbaik untuk anaknya. Mereka melakukan survei, sekolah mana yang menang banyak lomba, gedungnya punya banyak fasilitas, hingga mampu mengenali potensi anaknya. Tak jarang, sekolah-sekolah yang menawarkan berbagai keunggulan tersebut meminta biaya selangit.

Banyak orangtua kemudian bekerja dari pagi sampai malam untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anaknya. Tak jarang, di kota, orangtua menabung sejak anaknya masih bayi supaya bisa membayar biaya sekolah berstandar internasional. Karena mereka berharap, sekolah tersebut akan mendidik anaknya menjadi orang yang sukses. Para orangtua kerap lupa, kalau sekolah bukan tempat menitipkan anak. Banyak yang tidak ingat, jika merekalah guru pertama anak-anaknya.

Saya tipe orang yang percaya kalau anak tidak pernah minta dilahirkan. Mereka ada di dunia karena kebanyakan orangtuanya menginginkan anak. Bisa jadi karena mereka butuh orang untuk mengurusnya saat tua atau menaati perintah agama untuk melanjutkan keturunan. Kadang, saya kerap berpikir egois sekali menghadirkan seseorang di muka bumi ini tanpa memberi bekal apa yang akan ia hadapi kelak saat dewasa.

Seorang anak butuh panutan. Orang pertama yang mereka lihat setiap hari adalah orangtuanya bukan sekolah. Kalau tiap hari ia melihat ayahnya membolos kerja untuk tidur siang di rumah, jangan pernah harap si anak akan menjadi rajin.

Jika ia kerap mendapat celaan dari orangtuanya, mustahil si anak menjadi orang dewasa yang bisa memuji. Seorang anak tumbuh dididik oleh lingkungannya. Karena orangtua merupakan hal pertama yang ia lihat, tidak heran jika anak kemungkinan akan meniru sikap orangtuanya.

Jadi, layakkah orangtua bekerja banting tulang untuk menyekolahkan anaknya? Adakah sekolah yang bisa mendidik seorang anak menjadi orang yang sopan, berbudi, pekerja keras, dan rajin menabung jika orangtua yang ia lihat sehari-hari tidak memberi contoh?

Dear orangtua, tidak ada buku panduan bagaimana cara mengasuh anak. Tapi, bukan berarti kita tidak bisa belajar tentang hal tersebut. Ada banyak cara mulai dari membaca buku, mengamati orangtua yang mendidik anaknya dengan baik, hingga ikut pelatihan.

Jika kenalan saya membaca ini, bisa jadi akan menuai komentar. “Kau bisa ngomong kaya begitu karena belum punya anak. Repot lho bekerja sambil mengurus anak.” Ya, saya memang belum punya anak. Tapi, saya bertahun-tahun berurusan dengan orang dewasa yang bermasalah dengan hidupnya. Karena, tidak dididik dengan baik oleh orangtuanya. Saya percaya, buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.

(Sumber foto: Suara.com)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *