Gambut merupakan satu dari empat zona ekologis yang ada di Papua. Kawasan tersebut dihuni oleh 4 suku bangsa, yakni Suku Asmat, Yaqai, Marind-Anim, Kamoro, Sebyar, Simuri, Irarutu, Waropen, dan Bauzi. Pulau ini menjadi salah satu target restorasi gambut yang luasnya mencapai  39.239 hektar.

Karena ada ribuan kampung dalam kawasan tersebut, upaya restorasinya perlu memperhatikan masyarakat adat yang ada didalamnya. Kegiatan pengembalian fungsi gambut tidak bisa lepas dari kearifan lokal masyarakat.  Hal tersebut terungkap pada Talkshow Seri 2 Festival Kebudayaan Desa. Diskusi ini menghadirkan pakar gambut dan masyarakat adat yang hidup di lahan gambut.

Kampung Kaliki, Distrik Kurik, Merauke merupakan salah satu wilayah yang berada dalam kawasan gambut. Bagi penduduk lokal, gambut merupakan lokasi tempat mereka tinggal dan hidup dari berburu dan meramu hingga menangkap ikan. “Di Kampung kami masyarakat menyebut gambut sebagai oggnab. Suku Marind menyebut diri kami sebagai ha-anim—tanah orang Marind. Ini karena tanah merupakan simbol ibu yang memberi makan. Tanah juga memiliki fungsi sebagai kepemilikan, sumber pangan, dan identitas,” tutur Timotius Balagaize, Kepala Kampung Kaliki.

Ia juga menambahkan jika kampungnya sulit dijangkau lewat jalan darat. Masyarakat melakukan budidaya sagu, nanas, jambu mete, hingga padi di lahan gambut. Sagu merupakan sumber pangan lokal yang ramah lingkungan dan mampu memberi makan banyak orang. Sebuah pohon sagu bisa menghasilkan 113-150 kilogram sagu. Timotius juga mengutip jika gambut merupakan kawasan penyimpan air. Lokasi ini tidak cocok untuk dialihfungsikan untuk mencetak padi skala besar karena akan mengeringkan simpanan air didalamnya.      

Dalam diskusi tersebut, Direktur Eksekutif Perkumpulan Terbatas untuk Pengakajian Masyarakat Adat Jayapura, Papua, Naomi Marasian menyebut jika restorasi gambut dalam perencanaan desa adat harus memperhatikan keberadaan masyarakat dan lingkungannya. Saat mendampingi Suku Yaghai di Distrik Obaa, Naomi mengatakan jika kegiatan harus memunculkan inisiatif dari masyarakat adat. Karena masyarakat adat yang mendiami wilayah tersebut dan mereka yang mengerti potensi sekitar.

(Sumber foto: Jubi.co.id)


Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *