Deni Sailana Pembicara Talkshow Adat Boti

Ia kerap berkunjung ke berbagai masyarakat adat di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Tujuannya untuk mempelajari kearifan lokal masyarakat tersebut. Salah satunya adalah Adat Boti, yang menganut agama Halaika. Selama ini suku tersebut sempat mendapat diskriminasi dari masyarakat.

Dalam buku “Cerita dari Negeri Inklusi”. Ia menggambarkan secara puitis bagaimana masyarakat yang distigma dan didiskriminasi tersebut sejatinya sama-sama berperan dalam kebaikan bersama. “Jika kau melihat bintang-bintang di malam hari, itulah mereka. Terlihat tidak bergerak, tetapi itu hanya di matamu. Sejatinya mereka sedang beraktivitas. Bintang-bintang di Boti, baik yang berkonde maupun yang tidak, sama-sama berjuang menerangi kampung dengan sinarnya yang redup….”

Denimars Manian Sailana memang telah lama berperan dalam pendampingan masyarakat adat. Ia mengikuti berbagai pelatihan tentang advokasi masyarakat adat, penguatan jaringan, hingga tentang hak anak dan gender. Dunia aktivis ia geluti sejak 2001, saat menjadi petugas lapangan di Medecins Sans Frontieres. Lembaga kesehatan internasional yang memberikan asistensi kesehatan terhadap masyarakat di kawasan konflik atau kesulitan akses.

Selanjutnya, ia bergabung dengan Yayasan Tanpa Batas pada 2003. Saat ini, Denimars menjabat sebagai direktur yayasan tersebut. Deni dan yayasannya bergerak menangani isu yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi, terutama infeksi menular seksual dan HIV-AIDS di Kota Kupang. Salah satu programnya berupa edukasi generasi muda agar menghindari perilaku seks bebas. Karena di NTT, penyebaran HIV-AIDS lebih banyak disebabkan melalui hubungan seks.

Pada Kongres Kebudayaan Desa ini, Deni Sailana menjadi narasumber di hari pertama, 13 Juli 2020 dengan topik Ketahanan Masyarakat Adat Boti di tengah Bencana Pandemi Covid-19.

(Sumber foto: ytbntt.org)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *