Pemuda Desa Guwosari_

Sejarah kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peranan pemuda. Awalnya, pergerakan tersebut dimulai oleh sekumpulan mahasiswa STOVIA yang membentuk Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908. Hal tersebut memicu munculnya organisasi-organisasi kepemudaan lain yang kemudian diikuti oleh Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Para pemuda terus-menerus melakukan gerakan untuk melawan penjajah. Puncaknya, para pemuda melakukan penculikan terhadap Sukarno Hatta yang melahirkan proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.

75 tahun telah berlalu, kini pemuda menghadapi permasalahan yang berbeda. Di Kongres Kebudayaan Desa muncul diskusi bagaimana agar pemuda turut serta dalam membangun desa. Kaum muda diharapkan menjadi motor perubahan karena mereka memiliki semangat, cepat belajar hal baru, hingga memiliki tenaga.  Hal tersebut disampaikan oleh Masduki Ahmad, lurah dari Desa Guwosari, Bantul saat membahas buku PEMUDA: Merekonstruksi Ulang Formasi Strategis Pemuda.

Ia menyatakan, jika pemuda memilik banyak waktu luang untuk menjaga potensi yang ada di desa. Lurah yang baru berusia 28 tahun tersebut menyatakan jika momentum pemuda di desa menguat pada masa pandemi. Desa memiliki air, udara, pangan sehat, dan budaya gotong-royong. Peluang tersebut harus ditangkap oleh pemuda karena mereka memiliki energi dan kreatifitas.  Sayangnya, Masduki menyatakan golongan muda di desa memiliki  masalah karena mereka belum memiliki banyak ruang untuk berkegiatan di desa. Di berbagai desa muncul pendapat jika pemuda tidak punya tempat selain karang taruna.

Di sisi lain, bagi pemuda desa memiliki stigma ndeso atau  ketinggalan zaman. Tidak ada yang positif mengenai desa di mata pemuda. Pemerintah Desa Guwosari melakukan beberapa upaya supaya para pemuda tertarik berada di pemerintahan desa, sehingga ikut mengembangkan desa. Pemerintah harus menyediakan ruang supaya mereka bisa mengeksplorasi ide kreatifnya. Kadang, kaum muda tidak tahu cara untuk menyampaikan pendapatnya karena ada senioritas di organisasi desa. Hal tersebut perlu dihilangkan. Kini pemerintah desa memberikan fasilitas terhadap hal-hal yang disukai kaum muda. Seperti kemunculan komunitas sepeda dan track dunhill.

(Sumber foto: FB Desa Guwosari )

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *