Kongres Kebudayaan Desa lewat webinar seri 3 menghelat diskusi gagasan dan mimpi bersama lewat perbaikan pendidikan di Indonesia. Salah satunya dengan menghadirkan Toto Raharjo—salah seorang fasilitator pendidikan kerakyatan. Dalam pemaparannya, ia mengajak peserta mempertanyakan perihal kebebasan dan kemerdekaan dalam dunia pendidikan.

Saat ini, Toto Raharjo menilai pendidikan kita belum merdeka. Jika dulu, zaman Ki Hadjar Dewantara musuh yang dihadapi adalah Belanda, sementara kini penjajah beralih wujud menjadi globalisasi. Manusia di dunia diubah menjadi konsumen, termasuk konsumen pengetahuan. Institusi pendidikan, seperti perguruan tinggi, saat ini menjadi konsumen bukan produsen pengetahuan.

Pendidikan formal menguasai karena sistemnya yang menyeragamkan. Bahkan kini, pengetahuan sendiri menjadi bagian penting dalam melanggengkan kekuasaan. Toto menyatakan, jika pendidikan formal dari Sabang sampai Merauke itu seragam. Bahkan, pendidikan yang ada kini kerap menjadi dominasi sekolah. Orang beranggapan, jika sekolah pasti belajar, sementara orang yang tidak sekolah, dianggap tidak belajar.

Sekolah kemudian dibirokrasikan dan praktis di lapangan, hal tersebut kemudian menjadikan petani dianggap bukan seorang ahli pertanian. Seiring pendidikan yang belum merdeka, kini korupsi muncul karena adanya kegagalan pendidikan membentuk subyek. Ada kerakusan individu yang menjadi persoalan mengakar. Itu sebabnya, pendidikan harus memiliki visi membangun masyarakat profesional. Yang kerja, dibayar, dan bertanggung jawab. Salah satu syarat hidup bersama jangan sampai terjadi korupsi, karena hal ini merusak kehidupan bersama.

“Pembentukan karakter ini tidak bisa lagi diserahkan pada sekolah. Karena peserta didik hanya beberapa jam di sekolah. Karakter itu juga dibangun oleh lingkungan dan dari apa yang ia lihat,” tuturnya.

Toto Raharjo juga menyarabkan untuk mengajar keberpihakan pada hal kecil, seseorang tidak bisa hanya diajar dengan melihat kesewenang-wenangan. Ajaran untuk berkolaborasi itu sulit untuk diterapkan, karena selama ini di sekolah, murid hanya disuruh bersaing lewat tinggi-tinggian nilai.


Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *