Maria Loretha (tanpa keranjang di kepala) berjalan bersama petani perempuan di Desa Likotuden.

Romantisme hubungan perempuan dengan alam sudah terekam sejak dulu.  Meminjam istilah Vandana Shiva tentang ekologi feminisme, sikap asih, asuh, menumbuhkan, menjaga alam disebutnya sebagai prinsip feminin yang identik dimiliki perempuan. Kisah heroik perempuan India dalam gerakan Chipko melindungi pohon dari penebangan hutan dengan memeluknya menjadi teladan turun temurun. Heroisme Kartini Kendeng yang rela menyemen kaki sebagai wujud penolakan eksploitasi tambang di Rembang menjadi inspirasi banyak orang. Bagi mereka, produktivitas itu justru dibuktikan dengan menjaga alam, bukan dengan merusaknya.

Anggapan di masyarakat yang memasrahkan ketersediaan pangan keluarga kepada perempuan membuat keterikatannya dengan alam semakin kuat. Antara mengambil hasil alam dan menjaganya, butuh keseimbangan dan prinsip feminin yang dilakukan perempuan. Dalam konteks pemenuhan pangan keluarga, di masa pandemi ini perempuan memiliki kesulitan. Saat bumi sakit, seluruh sektor terkena dampaknya: ekonomi lesu, mobilitas terhambat, jalur distribusi bahan pangan lintas daerah seret. Mengatasi itu, perempuan melakukan inisiatif pemenuhan pangan dan bahkan membangun kedaulatan pangan keluarga dengan menyumbang pelestarian lingkungan. Tulisan ini akan membahas tentang inisiatif perempuan dalam menjaga kedaulatan pangan dan rekonstruksi ulang makna produktivitas tanpa merusak alam.

Beras-isasi Menghilangkan Potensi Pangan dan Mengubah Makna Kenyang

Kongres Kebudayaan Desa menjadi agen untuk mengingatkan kita pada rekonstruksi ulang makna produktivitas. Di dalam seri webinarnya terkait kedaulatan pangan, Maria Loretha diundang sebagai salah satu pembicaranya. Maria Loretha atau yang biasa disebut sebagai “Mama Sorgum” merupakan perempuan pelopor ditanamnya kembali sorgum di daerah Flores Timur, NTT. Sorgum menjadi bahan pangan langka yang sudah tercerabut dari NTT akibat fenomena “beras-isasi” atau menasionalkan beras dengan penyeragaman tanaman padi dalam program revolusi hijau dari ujung timur hingga barat Indonesia. Padahal tentu potensi pangan setiap daerah berbeda. Padi varietas unggul yang butuh air lebih banyak menimbulkan besarnya potensi gagal panen jika ditanam di daerah kering seperti NTT.

Landscape yang berbeda di setiap daerah menyebabkan potensi tanaman pangan yang cocok tumbuh di setiap daerah pun berbeda. Tanaman yang tumbuh berbeda pun sejak dahulu mempengaruhi penerimaan orang lokal di daerahnya tentang makna makanan. Layaknya orang Jawa yang merasa belum makan jika belum menyantap nasi, orang Indonesia Timur pun dulu belum merasa makan jika sorgum, jagung, atau sagu belum dilahap. Fenomena beras-isasi tidak hanya menghilangkan beragamnya potensi pangan di setiap daerah, namun juga memaksa mengubah pandangan orang tentang standar perut kenyang.

Tanam, Tuai, dan Berdaulat saat Covid

Maria Loretha yang memahami hal tersebut, mencoba menghidupkan kembali sorgum sejak beberapa tahun lalu. Awalnya menanam di tanah sendiri dan berhasil, kini Maria Loretha mulai menarik orang-orang terdekatnya dan masyarakat Flores pada umumnya untuk kembali menanam sorgum dengan praktik pertanian organik. Kelompok perempuan menjadi agen yang gigih dalam mengembalikan lagi potensi sorgum di NTT. Kelompok perempuan menjadi pendukung keras bagaimana sorgum bisa berpijar dan diakui oleh pemerintah Indonesia hingga di tahun 2020 Kementerian Pertanian menggalakkan program benih sorgum.

Di saat covid ini, ketika daerah lain sedang mengalami krisis pangan, sorgum yang ditanam kembali oleh Maria Loretha bisa menyelamatkan krisis pangan warga sekitar. Inisiatif Maria Loretha untuk menanam sorgum membangun sebuah kedaulatan pangan. Layaknya prinsip feminin dengan semangat menumbuhkan, Maria mengembalikan peluang sorgum di tanah asalnya. Maria tidak menuai tanpa menanam. Setelah menanam, Maria tidak menuainya sendirian. Maria menyebarkan semangat menanam kepada sebanyak-banyaknya orang agar mereka bisa menuai bersama.

Agar, mereka tidak hanya memiliki ketahanan pangan berasal dari pasokan pihak lain. Tetapi, masyarakat NTT bisa berdaulat memenuhi kebutuhan pangannya sendiri tanpa merusak lingkungan karena menggunakan praktik organik. Berbeda dengan paksaan penyeragaman padi varietas unggul dalam revolusi hijau yang mengharuskan banyaknya penggunaan pestisida, air yang lebih banyak, dan pupuk kimia yang berdampak buruk bagi lingkungan.

Apa yang dilakukan Maria Loretha merupakan bentuk wujud rekonstruksi ulang kata produktivitas. Produktivitas tidak bisa diukur dari eksploitasi yang sarat nilai maskulin, tetapi dari menanam dan melestarikan. Yang terpenting, jangan menuai sebelum menanam. Rekonstruksi ulang makna produktivitas yang disebarkan dalam webinar Kongres Kebudaan Desa ini memaksa kita untuk mengubah pola pikir ketika memperlakukan alam. Meskipun bumi diidiomkan sebagai ibu karena kasihnya tiada batas, tetapi memperlakukannya dengan bagi dan menjaga stabilitas bumi adalah kebutuhan. Karena terbukti, sakit dan tidak stabilnya bumi saat ini meluluhlantakkan seluruh sendi.

(Sumber foto: Feri Latief//nationalgeographic.grid.id)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *