Pandemi COVID-19 boleh saja mengoyak berbagai tatanan kehidupan di masyarakat. Mulai dari ekonomi, sosial, budaya, politik dan pemerintahan, bahkan hingga keamanan. Tapi, sejumlah contoh kecil yang berangkat dari kearifan dan nilai-nilai budaya lokal ternyata sudah terbukti nyata mampu menjadi penopang dalam situasi krisis ini. Satu di antaranya seperti yang dilakukan beberapa tempat di tanah air dengan gerakan sosial berbasis kepedulian terhadap sesama.

Di Jawa Tengah misalnya, ada gerakan yang namanya Jogo Tonggo yang dilakukan sejak dimulainya kebijakan social distancing dan physical distancing.

Warga masyarakat yang didominasi oleh perempuan ini melakukan inisiatif untuk melindungi dan membantu para tetangga mereka dengan cara menyediakan sayuran yang dikaitkan di pagar-pagar rumah. Sayuran-sayuran itu bisa dimanfaatkan oleh siapa pun di daerah itu sehingga mereka tidak perlu ke pasar demi untuk memutus mata rantai penularan COVID-19.

Selain itu, ada pula gerakan yang lebih inovatif lagi yang ditujukan untuk warga yang tinggal jauh dari pasar. Perwakilan warga atau relawan akan pergi ke pasar untuk menggerakan para pedagang sayuran di pasar untuk menyumbangkan paling tidak satu kantong plastik sayuran. Setelah terkumpul, sayuran-sayuran itu kemudian akan dibagikan kepada warga yang memang tidak bisa ke pasar. Ini merupakan bentuk nyata dari gerakan ketahanan pangan secara mandiri berbasis Rukun Warga (RW).

“Kita belajar dari tingkah laku orang lokal dalam menghadapi pandemi COVID-19 ini. Mereka tidak muluk-muluk, agar semua bisa tetap hidup, dapur harus tetap ngebul, anak-anak harus makan, bagaimana caranya? Yakni dengan inisiatif yang bertumpu pada karakter caring, saling asah, saling asih dan saling asuh,” papar Myra Diarsi, Staf Ahli Gubernur Jawa Tengah yang menjadi salah satu narasumber dalam Webinar seri ke-6 bertajuk Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak : Perempuan untuk Masa Depan Desa dan Arah Tatanan Indonesia Baru yang Inklusif dan Berintegritas yang digelar pada Jumat (3/7/2020).

Komisioner di Komisi Nasional Perempuan ini menyebutkan bahwa karakter caring yang merupakan standar kerja perempuan inilah yang menjadi kunci dalam upaya bertahan hidup di era tatanan baru dewasa ini.

Sementara standar kerja laki-laki adalah standar yang memandang laki-laki itu lebih produktif dari pada perempuan, dan juga memandang lebih logis dan rasional. Laki-laki, dalam hal ini ditempatkan sebagai satu-satunya yang berwenang dalam mencari nafkah dan memastikan kelangsungan hidup keluarga. Namun, di masa pembatasan sosial pada pandemi ini terbukti bahwa standar kerja yang selama ini berbasis laki-laki menjadi tidak relevan lagi untuk diimplementasikan.

Oleh karena itu, menurut Myra perlu dilakukan dekonstruksi terhadap relasi sosial yang selama ini sudah terlembagakan di masyarakat. Cara-cara kerja patriarkal yang memandang perempuan dan lelaki tidak setara harus segera ditinggalkan. Sehingga untuk menghadapi tatanan kehidupan baru ke depan, perlu adanya kontrak sosial yang baru. Yakni yang bertumpu pada standar pengukuran yang berbasis pada karakter gender perempuan yang khas yakni caring, saling asah, saling asih dan saling asuh.

Sayangnya, selama ini karakter gender perempuan selalu dilihat sebagai tambahan saja, atau menjadi nomor dua dalam relasi sosial. Menurut Myra kalau kondisinya tetap seperti ini, maka tatanan hidup baru terutama dalam relasi sosial itu tidak akan berubah.

“Jadi kerja-kerja merawat kehidupan, kerja interaksi sosial, kegiatan hiburan di masa pandemi ini bertumpu pada karakter caring, saling asah, saling asuh dan saling asuh. Dan ini adalah kerja gender yang ditumbuhkan dan dipercayakan kepada perempuan,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Webinar seri ke-6 ini diisi pula oleh narasumber lainnya yang meliputi Dr. Risa Permanadeli (Pusat Kajian Representasi Sosial Indonesia), Hasan Aoni (Omah Dongeng Marwah Kudus), Ema Husein (SPAK Sulawesi Selatan) serta Wahit Hasyim dari Yayasan Wangsakerta Cirebon. (*)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *