Baduy juga Punya Peribahasa Indonesia

Kekayaan Indonesia tidak hanya dari sumber daya alam, keberagaman suku, agama, dan pulau, tetapi juga peribahasanya. Persis apa yang dikatakan oleh Iman Budhi Santosa dalam Kongres Kebudayaan Desa “Norma-norma masyarakat Indonesia yang beragam dikemas dalam peribahasa. Isi peribahasa itu pun sangat sarat ilmu pengetahuan. Seperti filsafat, ekonomi, psikologi, politik, antropologi, dan hukum. Oleh sebab itu, peribahasa bukan fenomena kedaluwarsa,” ungkapnya.

Peribahasa Kenegaraan

Berbagai daerah di Indonesia memiliki peribahasanya tersendiri tentang berbagai hal. Termasuk tentang kenegaraan yang masih relevan hingga saat ini. Peribahasa Kalimantan Tengah misalnya, genep danum handalem, tiwing runtuh atau setiap air banjir, tebing runtuh. Peribahasa itu bermakna kepemimpinan suatu daerah apabila ganti pemimpin, maka ganti pula kebijakannya.

Peribahasa dari daerah lain yang juga tentang kenegaraan adalah deso mowo coro, negoro mowo toto. Arti peribahasa itu adalah desa punya adat sendiri, sedangkan negara punya hukum sendiri. Keduanya berbeda, tetapi bisa diselaraskan dalam praktik kemasyarakatan, seperti di lingkungan masyarakat adat.

Peribahasa Pluralitas

Selain tentang kenegaraan, peribahasa yang menunjukkan sifat plural dan toleransi masyarakat Indonesia ada di Ternate. “Peribahasa yang berisi anjuran menghormati kepercayaan hanya ada di Ternate, di seluruh Indonesia belum ada,” jelas Iman. Di Ternate, ada berbagai sastra lama yang terdapat dalam peribahasa. Salahsatunya menyatakan contoh laku baik kehidupan, yaitu ino fo makati nyinga (mari kita bertimbang rasa) doka gosora se balawa (seperti pala dengan fulinya)om doro yo mamote (masak bersama gugur bersama) fo magogoru se madudara (dilandasi kasih dan sayang).

Peribahasa Nusantara

Contoh tersebut merupakan bukti bahwa peribahasa tidak hanya khas masyarakat Jawa. Namun, masyarakat di luar Jawa yang ada di dalam naungan Indonesia. Seperti yang disebut di atas, Ternate dan Kalimantan Tengah memiliki nilai leluhurnya tersendiri yang mewujud sebagai peribahasa. Fungsi peribahasa itu adalah pengingat kita untuk selalu berlaku baik serta menjadi penunjuk jalan di dalam kehidupan. Oleh karena itu, sebagai penerus bangsa kita perlu untuk memahami peribahasa dari daerah yang bermacam.

Banyak dampak positif jika kita memahami  peribahasa: 1) Menambah ilmu; 2) Eksistensi peribahasa di seluruh Indonesia terjaga;  dan 3) Mempelajari tafsir peribahasa yang relevan untuk kehidupan.

“Mari mengumpulkan, mempelajari, dan menghayati peribahasa-peribahasa kita. Bukan hanya dari Jawa, tapi dari seluruh wilayah Indonesia, sebab tiap wilayah punya nilai yang khas,” ungkap Iman Budhi Santosa.

(Sumber foto: dispar.bantenprov.go.id)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *