Alam Suku Boti

Tanah Timor memiliki 1128 suku bangsa. Penjajahan Belanda dan interaksi dengan masyarakat luar membuat banyak di antara suku tersebut mengadopsi budaya luar. Di antara suku-suku tersebut ada Suku Boti yang masih memelihara tradisi leluhur, karena jarang bersinggungan dengan budaya luar. Suku ini menganut budaya yang dikenal dengan nama Atoin Meto. “Budaya Atoin Meto itu adalah adat yang menjamin jika orang itu akan mandiri seutuhnya karena hasil karyanya itu sendiri. Ia bisa menghidupi dirinya dan keluarganya dan tidak bisa mengharapkan sesuatu bantuan atau sesuatu stimulus dari luar dirinya sendiri,” kata  Balsasar O. I. Benu, Kepala Desa Boti.

Dalam Sesi I Festival Kebudayaan Desa, ia juga menambahkan jika adat ini membuat Suku Boti memiliki budaya menghormati dan mengasihi orang lain. Aturan yang diterapkan di Boti, berbeda dengan hukum formal yang biasa diterapkan di masyarakat. Suku Boti memiliki budaya yang bersifat membina orang untuk mengubah moral, pikiran, dan kelakuan supaya menjadi insan manusia merdeka.

Suku Boti memiliki kepercayaan asli bernama Halaika. Ajaran ini percaya pada Uis Pah dan Uis Neno. Uis Pah merupakan penguasa alam sedangkan Uis Neno adalah penguasa langit. Kepercayaan terhadap dua penguasa ini menyebabkan Suku Boti taat terhadap aturan meski tanpa ada undang-undang di dalam desa. Masyarakat percaya, ketika mereka membuat alam menjadi tidak baik, maka alam akan membalas dengan tindakan serupa. Suku Boti memiliki filosofi hidup kembali pada alam. Sehubungan dengan Covid-19, masyarakat Boti sangat meyakini selama mereka tidak berbuat munkar dan tidak merusak alam, mereka akan hidup dengan nyaman.

Suku Boti masih memegang tradisi-tradisi yang melekat erat tentang hubungan manusia dan semesta. Masyarakat berkeyakinan jika seluruh makhluk ciptaan Tuhan memiliki nyawa yang harus dijaga. Sikap selaras dengan alam juga terlihat dari tradisi pengobatan turun temurun yang disebut dengan sonaf. Pengobatan tradisional tersebut membuat masyarakat Boti yang masih memegang adat tidak pernah ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan lain. Mereka menyerahkan diri pada alam untuk menyembuhkan dirinya.

(Sumber foto: www.mongabay.co.id)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *