Shinta Ratri ketua ponpes waria al-fatah

Selama ini waria masih sering terpinggirkan. Bahkan, untuk beribadah di masjid pun, mereka mendapat perlakuan diskriminatif dari masyarakat. Karena itu, berdirilah Pesantren Waria Al-Fatah, di Yogyakarta. Awalnya, ini merupakan kelompok pengajian. Lahir dari acara doa bersama bagi korban gempa 2006 di Yogyakarta. Penggagasnya adalah Maryani. Sepeninggalnya, pengelolaan pesantren dilanjutkan oleh Shinta Ratri. Termasuk memindahkan lokasinya dari kontrakan di Notoyudan, ke rumahnya di Kotagede pada 2014.

Bagi Shinta dan rekan-rekan, pesantren ini merupakan rumah ibadah sekaligus jalan menuju Tuhan. Sebab, mereka yakin bahwa Tuhan adalah Dzat yang menuntun kehidupan. Di pesantren tersebut ada 42 santri. Mereka mendapat bekal keterampilan dan keagamaan. Mulai dari belajar membaca Alquran dengan metode Iqro, membaca Al-Qur’an, hingga kajian fikih dengan kitab Bulughul Maram. Menurut Shinta, tujuan beragam aktivitas tersebut untuk membangun moralitas yang lebih baik. Karena selama ini para waria hidup di jalan, sehingga terbiasa moral jalanan.

Berkat kegigihannya mendampingi para waria itulah, maka pada 2019, Shinta Ratri mendapat penghargaan pejuang hak asasi manusia dari Front Line Defenders. Lembaga berbasis di Irlandia tersebut menilai Shinta sebagai tokoh inspiratif di lingkup Asia Pasifik. Apresiasi diberikan atas perjuangannya sebagai pemimpin Pesantren Waria Al-Fatah. Termasuk saat pesentrennya sempat dipaksa tutup, tapi ia berhasil mendapat solusi terbaik untuk membukanya kembali. Karena baginya pesantren ini adalah pendar yang menyalakan semangat beribadah kawan-kawannya.

Pada Kongres Kebudayaan Desa ini, Shinta Ratri akan menjadi moderator di hari kelima, 5 Juli 2020 dengan topik Inklusi Sosial: Mewujudkan Masyarakat Inklusif dalam Tatanan Indonesia Baru.

(Sumber foto: Suara.com)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *