Modal sosial masyarakat dinilai telah berhasil menyelamatkan Indonesia sehingga bisa terhindar dari dampak pandemi covid-19 yang lebih parah. Hal ini disampaikan Sosiolog UGM M Najib Azca yang menjadi salah satu narasumber dalam Webinar seri ke-5 Kongres Kebudayaan Desa bertajuk Keamanan dan Ketertiban : Menghadirkan Rasa Aman dan Perlindungan dalam Tatanan Indonesia Baru pada Jumat (3/7/2020).

“Indonesia, meskipun di era pandemi ini bermasalah, khususnya di level negara dalam konteks penanganannya, yang menyelamatkan indonesia hingga hari-hari ini adalah kekuatan warganya, kekuatan modal sosial,” tandasnya.

Modal sosial yang dimaksud Najib antara lain kearifan lokal, kebersamaan, semangat gotong royong serta solideritas warganya. Sehingga tak berlebihan jika Indonesia termasuk salah satu negara dengan indeks kerelawanan yang tertinggi di dunia. Dan hal ini adalah modal besar dalam rangka mewujudkan keamanan dan ketertiban masyarakat khususnya di masa Pandemi Covid-19 di tingkat lokal atau desa.

Namun begitu, ada sejumlah masalah yang dihadapi. Satu di antaranya beragamnya desa yang ada di Indonesia. Keragaman ini juga menyebabkan beragamnya permasalahan dengan segala kompleksitasnya serta tantangan sosialnya. Dampaknya, strategi pemeliharaan keamanan dan ketertiban tidak bisa dilaksanakan pukul rata atau diseragamkan. Melainkan harus relevan dengan situasi dan kondisi daerah itu masing-masing. Belum lagi tata kelola pemerintahan di tingkat desa yang juga beragam.

“Bagaimana tata kelola di daerah itu dilakukan, semakin baik maka semakin tinggi ketangguhannya. Juga kapasitas institusional dan ketahanan warganya,” tambahnya.

Sehingga paling tidak ada tiga hal yang bisa dilakukan untuk membangun basis yang kuat untuk menciptakan keamanan dan ketertiban di level desa yakni pertama perlu dibangun tata kelola keamanan dan ketertiban yang lebih adaptif dan partisipatif. Dalam arti bahwa warga harus secara maksimal dilibatkan dalam proses pemeliharaan keamanan dan ketertiban.

Tak hanya itu, kapasitas kelembagaan juga harus ditingkatkan sehingga relevan dengan kondisi kekinian.

Sekarang, sudah bukan zamannya menggunakan cara-cara otoriter, tapi seharusnya lebih menggunakan pendekatan persuasif dalam pemeliharaan ketertiban dan keamanan.

Pun demikian halnya perlu ditingkatkan ketangguhan masyarakat dalam berbagai bidang. Permasalahan kesehatan COVID-19 ini saja, telah melahirkan efek domino yang menghantam berbagai sendi kehidupan. Dari mulai sosial, ekonomi, budaya hingga politik. Sehingga di sinilah pentingnya untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat di berbagai bidang.

“Kuncinya adalah bagaimana kita semua memperkuat ketangguhan kolektif ini dengan cara memberdayakan modal sosial yang kuat yakni pembelajaran sosial atau social learning. bagaimana mengelola modal sosial ini menjadi kekuatan bersama,” tandasnya.

Tinjauan serupa disampaikan Era Purnama Sari dari Bidang Advokasi YLBHI. Ia pun menyebutkan bahwa masing-masing desa yang jumlahnya sangat banyak ini memiliki keunikan dan karakteristiknya masing-masing. Sehingga persoalan dan ancamannya pun berbeda-beda. Meski begitu ada beberapa indikator yang bisa dijadikan acuan dalam melihat jenis-jenis ancaman terhadap keamanan dan ketertiban di level desa.

Berdasarkan hasil pengamatan dan pengalamannya Era membedakan level keamanan desa itu menjadi tiga tingkatan. Meliputi desa dengan tingkat kerawanan tinggi yakni merupakan wilayah yang punya sejarah konflik yang melibatkan korporasi besar, dengan aparat pemerintahan semisal TNI dan Polri, terjadi berulang serta menimbulkan korban jiwa.

Kemudian ada wilayah yang memiliki tingkat kerawanan level sedang, yakni wilayah yang punya sejarah konflik tapi tidak melibatkan kepentingan korporasi. Aparat pemerintah bisa saja terlibat di dalamnya, namun tidak ada korporasi sebagaimana yang terjadi di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi.

“Sebuah desa punya tingkat ancaman rendah apabila ada pelibatan pemerintah dalam persoalan yang dihadapi,” jelas Era menambahkan karakter wilayah dengan tingkat kerawanan rendah.

Lantas kebijakan strategis apa yang sebaiknya dilakukan untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban di level desa?

Menurut Era, desa harus diberikan otonomi yang disesuaikan dengan karakternya masing-masing. Selain itu, sebuah hal yang sangat penting yakni dilakukan penegakan hukum yang efektif, serta adanya perlindungan dari kementerian desa fasilitas perlindungan dari negara.

“Program-program penguatan keamanan desa bisa mempertimbangan karakteristik lokal desa, mendorong dialog-dialog kritis, dan penguatan komunitas terpadu,” tambahnya.

Ia mengingatkan jangan sampai desa kehilangan kebanggan akan potensi dan budaya lokalnya karena negara yang terlalu mendominasi. Apalagi kebijakan negara kerap kali menggerus mekanisme lokal yang sudah lama ada desa.

“Dialog-dialog kritis warga desa harus didorong supaya mereka bisa mengartikulasikan hukum-hukum dan mekanisme mereka,” tandasnya. (*)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *