Taufick Max Kepala Desa KAO

Baginya, desa punya ciri khas yang harus dihadirkan kembali, yaitu gotong-royong. Karena kebersamaan dan partisipasi merupakan identitas lokal desa yang mahal. Prinsip itulah yang jadi salah satu komitmennya saat memutuskan menjadi kepala desa di Desa Kao, Halmahera Utara, Maluku Utara. Ia memimpin tanah kelahirannya sejak 2015 dan akan berakhir di 2021. Hingga sejauh ini, ia percaya banyak potensi dan kearifan lokal yang bisa dikembangkan di desa. Karena tiap desa punya karakter berbeda, sehingga pembangunannya juga perlu di sesuaikan dengan karakter masing-masing.

Taufick Max mencontohkan dari sisi kualitas sumber daya manusianya. Tidak banyak desa yang dipimpin oleh kepala desa yang paham pengelolaan desa secara baik. Keterbatasan pengetahuan kepala desa dan pemahamannya pada regulasi, selama ini turut menjadi penghambat pengembangan desa. Apalagi kesejahteraan aparatur desa belum terjamin. Karena itu, Taufick melihat fakta di daerahnya, banyak orang berpendidikan tinggi yang enggan menjadi aparatur desa.

Lahir dan tumbuh di Desa Kao, membuatnya sangat kenal kondisi wilayah yang dikelolanya. Bahkan yang menarik, sejak 2018 ia juga menjadi guru honorer di SMK Plus Halmahera Utara. Bekal akademisnya ia dapat dari Universitas 45 Makassar tahun 2006-2008, lalu Institut Teknologi Pembangunan Makassar, pada 2008-2010. Setelah menyelesaikan strata sarjana, Taufick menempuh studi pascasarjana di Universitas Trisakti Jakarta. Dan meraih gelar master pada tahun 2014. Setahun setelahnya, ia kembali ke tanah kelahiran, memilih jalan pengabdian pada desa tercinta.

Pada Kongres Kebudayaan Desa ini, Taufick Max akan menjadi narasumber di hari kedelapan, 8 Juli 2020 dengan topik Hukum dan Politik Desa: Membangun Habitus Politik dan Regulasi yang Memuliakan Martabat Manusia dalam Tatanan Indonesia Baru.

(Sumber foto: Kao.desa.id)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *